PENDAPATAN TERUS BERTUMBUH
Pendapatan (Revenue)
adalah total pemasukan perusahaan dari kegiatan usaha utama, sebelum
dikurangi biaya apa pun. Pendapatan ini berasar dari Penjualan barang, Pendapatan
jasa dan Komisi, fee, atau langganan. Pendapatan tidak sama dengan laba. Pendapatan
masih harus dikurangi biaya operasional, bunga, dan pajak.
Dalam melakukan analisis saham,
pendapatan merupakan Fondasi utama kinerja keuangan, Indikator daya
saing & permintaan pasar dan Penentu keberlanjutan bisnis. Pendapatan
yang Baik untuk Analisis Saham. Bertumbuh Secara Konsisten terlihat Naik
dari tahun ke tahun (YoY) dan Stabil dari kuartal ke kuartal (QoQ). Berasal
dari Bisnis Utama, pendapatan
berkualitas berasal dari core business bukan dari penjualan aset,
selisih kurs, atau pendapatan sekali jalan. Pendapatan juga harus seimbang
dengan Pertumbuhan Laba. Kenaikan pendapatan diikuti kenaikan laba selain
dari itu margin laba stabil atau membaik.
Pertumbuhan Pendapatan yang Ideal (Panduan Umum)
|
Tipe Perusahaan |
Pertumbuhan Sehat |
|
Perusahaan matang |
5–10% / tahun |
|
Perusahaan berkembang |
10–20% / tahun |
|
Teknologi / startup |
>20% / tahun |
|
Siklis |
Fluktuatif (ikuti siklu |
KEUNTUNGAN
Dalam analisis saham, kondisi laba
(profit) adalah salah satu indikator paling penting, tetapi tidak boleh dilihat
hanya dari besar-kecilnya angka. Analisis yang harus dipahami saat memilihi
saham minimalnya memiliki keuntungan yang positif/Laba bersih (Net Profit)
positif disertai dengan pertubuhan yang selalu naik Year-on-Year (YoY) serta Quarter-on-Quarter (QoQ). Pertumbuhan laba
setidaknya sama dengan pertumbuhan pendapatan. Laba ini haru berasal dari operasional
utama atau dukungan arus kas operasional (CFO) positif.
HUTANG (LIABILITAS)
Menilai utang (liabilitas)
perusahaan adalah bagian krusial dalam analisis saham, karena
perusahaan dengan pendapatan besar bisa tetap berisiko jika utangnya tidak
sehat. Berikut panduan lengkap, sistematis, dan praktis. Analisis ini
dapat dipantau melalui Debt to Equity Ratio (DER) jika lebih kecil dari 1,0 maka kategori sehat
sedangakan 1,0 – 2,0 ini masih wajar.
Harus dihindari jika 2,0 karena memoliki
berisiko tinggi.
Hutang yang
Sehat digunakan untuk Ekspansi bisnis, Investasi produktif
dan Meningkatkan kapasitas. Kita harus menghindari perusahaan yang menggunakan Utang
untuk menutup kerugian, Bayar bunga lama dan Operasional tidak efisien.
PERTUMBUHAN ASET
Nilai aset perusahaan yang bagus
adalah aset yang berkualitas, produktif, dan sehat secara finansial,
bukan sekadar besar angkanya. Aset Lebih Besar dari Utang (Aset Bersih
Positif). Ukuran paling dasarnya Total Aset > Total Liabilitas Artinya
perusahaan punya ekuitas positif (tidak bangkrut secara neraca). Indikatornya
Debt to Asset Ratio < 50% ini tergolong
sehat Debt to Equity Ratio (DER) rendah ini menunjukan risiko keuangan
lebih kecil.
Aset
Produktif & Menghasilkan Pendapatan Aset yang bagus mampu
menghasilkan uang ini menunjukan Pabrik yang aktif produksi, Properti yang
disewakan atau Mesin, teknologi, serta lisensi yang dipakai operasional. Return
on Assets (ROA) positif & stabil semakin tinggi ROA maka aset makin efisien. Komposisi Aset
Sehat yang ideal dapat dilihat dari Aset Lancar cukup ini menunjukan likuiditas aman, Aset Tetap
tidak berlebihan sehingga tidak
membebani biaya.
EARNINGS PER SHARE (EPS)
Earnings Per Share menunjukkan berapa besar laba bersih
perusahaan yang “jatuh” ke setiap 1 lembar saham. Semakin besar EPS,
semakin besar potensi keuntungan bagi pemegang saham.
HARGA WAJAR SAHAM
Harga wajar (fair value) saham
adalah perkiraan nilai yang “seharusnya” berdasarkan kinerja dan prospek
perusahaan, bukan sekadar harga pasar saat ini. Konsep Dasar Harga Wajar ini
merupakan Harga pasar yang ditentukan supply and demand dan Harga
wajar juga ditentukan fundamental perusahaan. “Beli di
bawah harga wajar, jual di atas harga wajar”.
Metode yang umum digunakan untuk
menghitung harga wajar sebuah emiten dengan menggunakan PER dengan rumus
Harga Wajar = EPS×PER Wajar. PER digunakan untuk analisi laba. Untuk
mencari harga wajar berdasarkan aset perusahaan yang sudah stabil (kuat) atau
tidak dapat menggunakan Price to Book Value (PBV) dengan menggunakan rumus
Harga Wajar=BVPS×PBV Wajar. Selain dari itu Discounted Cash Flow
(DCF) menjadi salah satu hal dapat dijadikan penilaian dimana Nilai sekarang
dari arus kas yang akan diterima di masa depan. Rumus yang digunakan FCF = Cash Flow Operasional−
Belanja Modal (CapEx). Cara
lain untuk mencari harga wajar dengan EV/EBITDA merupakan salah satu rasio
valuasi paling populer untuk menilai harga wajar saham, terutama
saat laba bersih (EPS) belum stabil. Rumus pertama mecari EV=Market Cap+Total Utang−Kas
kemudian EBITDA= Laba Operasional + Depresiasi + Amortisasi setelah itu EV/EBITDA
= EV/EBITDA. Analisisnya jika lebih
kecil dari 6× murah, 6–10× kategori wajar dan 10–15× mahal.