PT Global Digital Niaga Tbk (kode saham: BELI) merupakan salah satu emiten teknologi yang bergerak di sektor e-commerce Indonesia. Perusahaan ini lebih dikenal dengan brand Blibli, sebuah platform belanja online yang mengusung konsep curated marketplace dan omnichannel. Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia, saham BELI kerap menjadi perhatian investor yang tertarik pada pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Dalam artikel ini, kita akan membahas analisis fundamental saham BELI, mulai dari kinerja keuangan, struktur utang, hingga prospek jangka panjangnya dari sudut pandang investor.
Profil Singkat PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)
PT Global Digital Niaga Tbk didirikan pada tahun 2011 dan resmi menjadi perusahaan terbuka pada tahun 2022. BELI beroperasi di sektor teknologi, sub-sektor perdagangan digital dan e-commerce.
Model bisnis BELI berfokus pada:
-
Marketplace online
-
Official store dan brand ternama
-
Integrasi online-to-offline (omnichannel)
-
Layanan logistik dan pembayaran digital
Keunggulan utama BELI dibanding kompetitor adalah fokus pada keaslian produk, kualitas layanan, dan pengalaman pelanggan.
Kinerja Keuangan Saham BELI
Pertumbuhan Pendapatan BELI
Pendapatan PT Global Digital Niaga Tbk menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup agresif. Pada 2021, pendapatan tercatat sekitar Rp8,86 triliun dan melonjak signifikan menjadi Rp15,27 triliun pada 2022. Meskipun sempat mengalami penurunan pada 2023, pendapatan kembali tumbuh pada 2024 dan 2025 hingga mencapai Rp19,82 triliun.
Secara jangka menengah, tren ini menunjukkan bahwa bisnis inti BELI masih berkembang, seiring meningkatnya adopsi belanja online di Indonesia.
Laba Bersih dan Profitabilitas
Meskipun pendapatan tumbuh, saham BELI masih mencatatkan laba bersih negatif. Kerugian bersih terutama disebabkan oleh:
-
Biaya pemasaran tinggi
-
Beban operasional besar
-
Investasi teknologi dan infrastruktur
Namun, penting dicatat bahwa kerugian bersih BELI terus menyusut dari tahun ke tahun. Ini merupakan sinyal positif bahwa perusahaan mulai bergerak ke arah efisiensi dan jalur profitabilitas.
Arus Kas Operasional
Arus kas operasional (CFO) BELI masih berada di zona negatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan belum menghasilkan kas dari aktivitas operasionalnya. Bagi investor, ini merupakan risiko yang perlu diperhatikan, karena keberlanjutan bisnis sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mencapai arus kas positif di masa depan.
Analisis Neraca dan Struktur Utang
Dari sisi neraca, struktur keuangan BELI relatif sehat. Debt to Equity Ratio (DER) berada di bawah 1, yang menandakan bahwa utang perusahaan masih terkendali.
Selain itu, posisi utang bersih (net debt) BELI dalam beberapa tahun terakhir bahkan negatif, yang berarti kas perusahaan lebih besar dibanding total utangnya. Hal ini memberikan ruang finansial untuk menopang operasional dan ekspansi.
Valuasi Saham BELI dan Perspektif Investor
Karena masih mencatatkan rugi bersih, saham BELI belum dapat dinilai secara wajar menggunakan PER. EPS yang masih negatif membuat pendekatan valuasi tradisional kurang relevan.
Investor pada saham BELI umumnya menggunakan pendekatan:
-
Growth investing
-
Market opportunity
-
Skalabilitas bisnis digital
Dengan harga saham di kisaran Rp470, valuasi BELI mencerminkan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang, bukan kinerja laba saat ini.
Peluang dan Tantangan Saham BELI
Peluang
-
Pasar e-commerce Indonesia masih besar
-
Peningkatan penetrasi internet dan digitalisasi
-
Strategi omnichannel yang belum banyak dimiliki kompetitor
-
Dukungan grup usaha besar
Tantangan
-
Persaingan ketat di industri e-commerce
-
Tekanan margin akibat perang harga
-
Risiko pembakaran kas berkepanjangan
Risiko Investasi Saham BELI
Investor perlu memahami beberapa risiko utama:
-
Risiko bisnis akibat belum profit
-
Risiko industri dengan persaingan tinggi
-
Risiko dilusi saham
-
Risiko makroekonomi dan daya beli
Kesimpulan Analisis Saham BELI
Saham BELI merupakan saham berbasis pertumbuhan dengan potensi jangka panjang, namun disertai risiko yang cukup tinggi. Perusahaan menunjukkan perbaikan dari sisi efisiensi dan margin, tetapi masih membutuhkan waktu untuk mencapai profitabilitas.
Bagi investor agresif dengan horizon jangka panjang, saham BELI dapat menjadi opsi spekulatif berbasis pertumbuhan. Namun, bagi investor konservatif, pendekatan wait and see masih lebih bijak.